Ruang Amphitheater dan ruang MUN lantai 3 Gedung FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) berubah jadi markas PBB mini selama hampir 10 jam penuh, Kamis, 30 Oktober 2025. Puluhan delegasi dari berbagai kampus di Jakarta, Bogor, Tangerang, sampai Bandung duduk sesuai bendera negara masing-masing, pakai jas formal, nameplate, dan ekspresi serius — persis seperti sidang Dewan Keamanan atau General Assembly beneran. Tema besar yang diusung tahun ini berat banget: “Charting the Future of Human Trafficking Response: Collective Security and Sustainable Solutions”. Satu hari penuh, mereka berdebat, lobi-lobi di koridor, nulis working paper, sampai akhirnya ngelahirin resolusi bareng soal perdagangan manusia.
Ketua Prodi Hubungan Internasional FISIP Moestopo, Nadirah, S.Sos., M.A., yang membuka acara, berkata bahwa ini bukan cuma latihan biasa. “Human trafficking itu isu nyata yang tiap hari ngerenggut jutaan nyawa dan martabat manusia. Kalian yang duduk di sini hari ini, besok bisa jadi yang beneran duduk di meja perumus kebijakan global. Makanya dari sekarang harus terbiasa berpikir kritis, negosiasi keras, tapi tetap cari solusi yang sustainable dan manusiawi,” kata Bu Nadirah sambil ngeliatin satu per satu delegasi yang udah pada siap tempur.
Short Diplomatic Course (SDC) 2025 yang digelar Departemen I Bidang Penelitian dan Pengembangan Keilmuan HIMAHI ini memang beda level dari tahun-tahun sebelumnya. Selain jumlah peserta yang tembus lebih dari 20 orang, kualitas debatnya juga naik. Ada delegasi Rusia yang keras banget tolak intervensi Barat, China yang keras soal sanksi, Jepang yang main blocking tiap poin yang menyentuh wilayahnya, sampai Indonesia yang jadi penutup celah dengan usul kerjasama ASEAN-plus. Lobby di belakang panggung lebih panas lagi, koridor lantai 3 penuh mahasiswa bisik-bisik, bertukar draft, sampai ada yang membawa kopi biar tetap semangat.
Ketua Pelaksana SDC 2025, Siti Ayasha, mengaku deg-degan tapi puas banget. “Dari pagi jam setengah delapan kita udah gladi. Yang bikin bangga, resolusi akhir yang disahkan itu bener-bener komprehensif: ada poin soal data sharing lintas negara, rehabilitasi korban, sampe pendanaan dari negara maju ke negara berkembang,” cerita Ayasha sambil senyum lebar.
Intan Az Zahra Aminnudin, Ketua Umum HIMAHI 2024-2025, “Acara kayak gini yang bikin nama HI Moestopo dikenal di luar sana. Kita nggak cuma bikin simulasi, tapi bener-bener ngajarin anak-anak cara berpikir seperti diplomat beneran. Dari cara menulis position paper, ngomong di podium tanpa grogi, sampe cara matiin lawan pake senyuman, semua dilupain di sini,” ujar Intan pas sesi penutupan sambil tepuk tangan meriah.
Puncaknya, tiga delegasi terbaik dapet penghargaan: Best Delegate diraih delegasi Colombia (Globy), Most Outstanding Delegate untuk delegasi China (UPNVJ), dan Best Position Paper buat delegasi Philippines (UPNVJ). Semua peserta pulang bawa sertifikat, pengalaman nggak ternilai, dan teman baru dari kampus lain.
Meski lelah, banyak yang sampai suara habis, kaki pegal berdiri seharian, dan working paper revisi sampai tiga kali suasana pas penutupan malah penuh tawa. Foto bersama, bagi-bagi stiker SDC, sampe janjian buat ikut event MUN lain bareng-bareng.
Short Diplomatic Course 2025 sekali lagi mebuktikan kalau HIMAHI Moestopo nggak main-main soal akademik. Bukan cuma bikin acara, tapi bikin generasi yang siap duduk di meja diplomasi dunia beneran


Tinggalkan Balasan