Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin keras dan dinamika hubungan internasional yang penuh tekanan, kemampuan mengelola emosi bukan lagi opsi, tapi keharusan. Hal itu kembali ditegaskan oleh Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Nadirah, S.Sos., M.A., saat membuka rangkaian acara Global Skill Initiative (GSI) 2025. “Kalian bisa jago teori realisme, liberalisme, atau konstruksi sosial seindah apa pun, tapi kalau emosi nggak stabil, keputusan yang diambil di meja negosiasi atau di saat krisis bisa salah total,” kata Bu Nadirah dengan nada yang santai tapi menusuk, langsung bikin ruangan Amphitheater lantai 3 Gedung FISIP jadi hening sejenak, Selasa, 23 September 2025.

Acara yang digagas Departemen II Bidang Kaderisasi dan Pengembangan Organisasi Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) periode 2024-2025 ini memang sengaja dirancang beda dari seminar-seminar biasa. Mengangkat tema besar “Membentuk Stabilitas Emosi dalam Pengambilan Keputusan Strategis di Bidang Akademik dan Dunia Profesional”, GSI 2025 nggak cuma ngasih materi, tapi bener-bener memaksa peserta keluar dari zona nyaman lewat kombinasi talkshow intens, QnA tajam, ice breaking yang bikin ngakak sekaligus mikir, sampai simulasi decision game berjudul FLAGGED! yang bikin jantungan karena tiap keputusan punya konsekuensi langsung.

Dua narasumber yang dihadirkan juga bukan kaleng-kaleng: satu dari kalangan praktisi yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia negosiasi dan manajemen krisis, satunya lagi psikolog organisasi yang sering jadi pembicara di perusahaan multinasional. Keduanya kompak bilang satu hal: “Orang yang emosinya labil, sekaya apa pun portofolionya, tetap nggak akan dipercaya duduk di meja besar.” Mereka bercerita panjang lebar soal kasus nyata: diplomat yang gagal karena marah di saat genting, analis yang salah prediksi karena ego, sampai tim negosiator yang bubar gara-gara nggak bisa ngendaliin emosi masing-masing. Ruangan yang tadinya rame jadi sunyi, banyak yang manggut-manggut sambil nyatet.

Mochamad Raihan, Ketua Pelaksana GSI 2025, mengaku sengaja bikin format acara yang “nyakitin” tapi membangun. “Kita sering lihat temen-temen HI pinter banget nulis paper, debatnya ganas, tapi begitu ada sesuatu yang tidak enak dirasakan langsung down berhari-hari. Nah, ini yang mau kita obati lewat GSI,” ujar Raihan sambil ketawa. Menurutnya, simulasi FLAGGED! yang jadi penutup acara adalah puncaknya. Peserta dibagi kelompok, dikasih skenario krisis internasional fiktif tapi realistis, dan dipaksa ambil keputusan dalam hitungan menit sambil diganggu distraksi dan provokasi dari tim panitia. Hasilnya? Banyak yang baru sadar betapa gampangnya emosi mengambil alih logika.

Intan Az Zahra Aminnudin, Ketua Umum HIMAHI 2024-2025, menutup acara dengan nada haru. “Kalian yang hari ini dateng, yang rela duduk dari jam sepuluh pagi sampe jam dua siang, yang mau diajak keluar dari comfort zone, kalian adalah harapan kita. Karena nanti, entah jadi diplomat, analis kebijakan, journalist, pengusaha, atau apa pun, yang bikin kalian beda bukan cuma IPK, tapi seberapa tenang kalian di saat semua orang panik,” kata Intan disambut tepuk tangan meriah dari lebih 70 peserta yang hadir, mulai angkatan 2023 sampai 2025, plus pengurus HIMAHI dan beberapa dosen.

Meski sempat ada drama kecil seperti sound system mati di awal dan konsumsi yang harus di-adjust karena vendor dadakan ngancel, acara tetap berjalan mulus dan ditutup dengan foto bersama plus sharing session santai. Banyak peserta yang bilang GSI 2025 ini jadi salah satu kegiatan HIMAHI paling berkesan selama mereka kuliah di Moestopo.

“Keren banget, tadi aku senang pas main FLAGGED!, tapi abis itu rasanya lega banget. Kayak baru sadar selama ini aku suka buru-buru ambil keputusan kalau lagi kesel,” cerita salah satu peserta angkatan 2024 sembari bawa snack box pulang.

Global Skill Initiative 2025 sekali lagi membuktikan bahwa HIMAHI nggak cuma jadi tempat buat bikin acara seremonial, tapi bener-bener serius mencetak generasi Hubungan Internasional yang nggak cuma pinter otaknya, tapi juga kuat hatinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *