Dalam rangka memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik diplomasi kebudayaan sebagai instrumen soft power, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyelenggarakan kegiatan Studi Ekskursi Volume 2 pada Rabu, 25 Juni 2025. Kegiatan dengan tema “Cultural Diplomacy as a Soft Power Tool: France’s Global Influence Through Language and Art” ini merupakan implementasi dari program kerja Departemen III Bidang Jaringan dan Komunikasi HIMAHI periode 2024-2025.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPDM(B), Nadirah, S.Sos., MA., menjelaskan bahwa diplomasi budaya merupakan salah satu topik yang sangat relevan dalam kajian hubungan internasional kontemporer. “Prancis adalah salah satu negara yang paling sukses dalam memanfaatkan kekayaan budayanya sebagai alat diplomasi. Melalui bahasa, seni, mode, kuliner, dan berbagai aspek budaya lainnya, Prancis berhasil membangun pengaruh global yang kuat tanpa menggunakan kekuatan militer atau tekanan ekonomi,” jelasnya.

Ilmu Hubungan Internasional merupakan disiplin akademis yang mencakup spektrum luas pengetahuan, yang tidak hanya terbatas pada diplomasi tradisional, tetapi juga mencakup diplomasi publik, diplomasi budaya, dan soft power. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), melalui Program Studi Hubungan Internasional, berkomitmen untuk memberikan mahasiswa kesempatan belajar yang komprehensif, tidak hanya melalui pembelajaran di kelas tetapi juga melalui eksplorasi langsung ke institusi-institusi yang menjalankan praktik diplomasi dalam kehidupan nyata.

Tema yang diusung dalam Studi Ekskursi Volume 2 ini menyoroti peran strategis diplomasi kebudayaan sebagai bagian dari soft power dalam memperkuat pengaruh global Prancis di panggung internasional. Diplomasi kebudayaan bukan hanya menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas nasional, tetapi juga merupakan instrumen penting dalam membangun citra positif, menjalin hubungan antarbangsa, serta menciptakan koneksi emosional yang mendalam melalui medium seni dan bahasa.

Melalui tema ini, mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana Prancis memanfaatkan kekayaan budayanya, termasuk bahasa Prancis, fashion, seni rupa, musik, film, mode, hingga kuliner sebagai alat diplomasi yang efektif. Strategi ini tidak semata-mata bertujuan mempromosikan budaya, melainkan juga merepresentasikan pendekatan politik yang halus dalam membentuk opini publik internasional dan memperkuat hubungan bilateral secara damai dan berkelanjutan.

Dekan FISIP UPDM(B), Prof. Dr. Himsar Silaban, MM., menekankan pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap konsep soft power dalam diplomasi modern. “Di era globalisasi ini, kekuatan suatu negara tidak hanya diukur dari kemampuan militer atau ekonominya, tetapi juga dari kemampuannya menarik simpati dan mempengaruhi negara lain melalui budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Prancis adalah contoh sempurna dari keberhasilan strategi ini,” ujarnya.

Studi Ekskursi ini memiliki beberapa tujuan strategis yang sejalan dengan kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa Hubungan Internasional. Pertama, memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai bagaimana hubungan internasional dikelola secara langsung melalui praktik diplomasi nyata di lapangan, khususnya diplomasi budaya. Kedua, mengkaji dan menganalisis strategi global yang diterapkan oleh negara melalui peran aktif perwakilan diplomatik dan institusi budaya.

Ketiga, mendorong mahasiswa untuk membangun koneksi profesional serta memperoleh pengalaman lapangan melalui interaksi langsung dengan pejabat diplomatik dan praktisi hubungan internasional. Keempat, meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap dinamika kebijakan luar negeri secara lebih aplikatif dan kontekstual. Kelima, menumbuhkan keterampilan analitis mahasiswa dalam mengidentifikasi dan memahami isu-isu kontemporer dalam hubungan internasional, khususnya yang berkaitan dengan soft power dan diplomasi publik.

Dalam paparannya, perwakilan kedutaan menjelaskan bahwa diplomasi budaya Prancis dijalankan melalui berbagai institusi dan program, termasuk Institut Français dan Alliance Française yang tersebar di seluruh dunia. Institusi-institusi ini tidak hanya mengajarkan bahasa Prancis, tetapi juga menjadi pusat promosi budaya Prancis melalui berbagai kegiatan seperti festival seni, pameran, konser musik, pemutaran film, dan program pertukaran budaya.

Mahasiswa juga mempelajari bagaimana Prancis menyebarkan nilai-nilai universal seperti liberté (kebebasan), égalité (kesetaraan), dan fraternité (persaudaraan) melalui berbagai program diplomasi pendidikan, termasuk beasiswa untuk mahasiswa internasional, program pertukaran pelajar, dan kerja sama akademik dengan universitas-universitas di berbagai negara.

Perwakilan kedutaan juga menjelaskan bagaimana bahasa Prancis menjadi salah satu aset diplomasi terbesar Prancis. Sebagai salah satu bahasa resmi PBB, Uni Eropa, dan berbagai organisasi internasional lainnya, bahasa Prancis menjadi jembatan komunikasi yang memfasilitasi pengaruh Prancis di kancah global. Melalui program-program pembelajaran bahasa Prancis di berbagai negara, Prancis tidak hanya menyebarkan bahasanya tetapi juga nilai-nilai dan perspektif budayanya.

Kegiatan Studi Ekskursi Volume 2 ini memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep soft power dan diplomasi budaya secara teoretis, tetapi juga melihat langsung bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam praktik nyata oleh salah satu negara yang paling berhasil dalam menjalankan strategi ini.

Kepala Program Studi Hubungan Internasional Nadirah, S.Sos., MA., menjelaskan bahwa pemahaman tentang diplomasi budaya sangat penting dalam konteks hubungan internasional modern. “Di era di mana informasi mengalir dengan sangat cepat dan opini publik dapat berubah dalam sekejap, kemampuan suatu negara untuk membentuk persepsi positif melalui budaya menjadi sangat penting. Mahasiswa kita perlu memahami bahwa diplomasi tidak hanya tentang negosiasi formal antar pemerintah, tetapi juga tentang bagaimana membangun hubungan people-to-people yang lebih dalam,” jelasnya.

Ketua Umum HIMAHI, Intan Az Zahra Aminnudin, menambahkan bahwa kegiatan ini juga mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya apresiasi terhadap keberagaman budaya. “Melalui pemahaman terhadap bagaimana Prancis mempromosikan budayanya, kita juga belajar untuk lebih menghargai kekayaan budaya Indonesia sendiri. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam diplomasi budaya, dan mahasiswa kita perlu memahami bagaimana memanfaatkan potensi tersebut untuk kepentingan nasional,” ujarnya.

Kegiatan Studi Ekskursi Volume 2 yang diselenggarakan oleh HIMAHI FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) ke Kedutaan Besar Prancis merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual dalam bidang hubungan internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai diplomasi budaya sebagai instrumen soft power, serta bagaimana strategi ini dijalankan oleh Prancis untuk memperkuat pengaruh globalnya.

Tema “Cultural Diplomacy as a Soft Power Tool: France’s Global Influence Through Language and Art” berhasil membuka wawasan mahasiswa tentang dimensi diplomasi yang lebih luas, di luar diplomasi tradisional yang berfokus pada negosiasi politik dan ekonomi. Mahasiswa memahami bahwa dalam era globalisasi dan interdependensi yang semakin kompleks, soft power menjadi instrumen yang sangat penting dalam mencapai kepentingan nasional suatu negara.

Kegiatan ini juga memperkuat pesan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya tentang transfer pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga tentang memberikan pengalaman langsung yang dapat memperkaya pemahaman dan membangun keterampilan praktis mahasiswa. Melalui kombinasi antara pembelajaran teoretis dan pengalaman lapangan, mahasiswa diharapkan dapat menjadi lulusan yang siap menghadapi tantangan dalam dunia hubungan internasional yang dinamis dan kompleks.

Dengan memahami praktik diplomasi budaya dari perspektif lapangan dan strategi global dari para pelaku langsung, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan wawasan kritis serta keterampilan analitis yang diperlukan untuk berkontribusi di bidang hubungan internasional secara profesional. Diplomasi budaya sebagai soft power bukan hanya relevan untuk memahami strategi negara lain, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk lebih mengoptimalkan kekayaan budayanya dalam diplomasi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *