Mahasiswa Hubungan Internasional Gelar Simulasi Sidang PBB, Bahas Perdagangan Manusia di Short Diplomatic Course 2025 HIMAHI Moestopo

Ruang Amphitheater dan ruang MUN lantai 3 Gedung FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) berubah jadi markas PBB mini selama hampir 10 jam penuh, Kamis, 30 Oktober 2025. Puluhan delegasi dari berbagai kampus di Jakarta, Bogor, Tangerang, sampai Bandung duduk sesuai bendera negara masing-masing, pakai jas formal, nameplate, dan ekspresi serius — persis seperti sidang Dewan Keamanan atau General Assembly beneran. Tema besar yang diusung tahun ini berat banget: “Charting the Future of Human Trafficking Response: Collective Security and Sustainable Solutions”. Satu hari penuh, mereka berdebat, lobi-lobi di koridor, nulis working paper, sampai akhirnya ngelahirin resolusi bareng soal perdagangan manusia.

Ketua Prodi Hubungan Internasional FISIP Moestopo, Nadirah, S.Sos., M.A., yang membuka acara, berkata bahwa ini bukan cuma latihan biasa. “Human trafficking itu isu nyata yang tiap hari ngerenggut jutaan nyawa dan martabat manusia. Kalian yang duduk di sini hari ini, besok bisa jadi yang beneran duduk di meja perumus kebijakan global. Makanya dari sekarang harus terbiasa berpikir kritis, negosiasi keras, tapi tetap cari solusi yang sustainable dan manusiawi,” kata Bu Nadirah sambil ngeliatin satu per satu delegasi yang udah pada siap tempur.

Short Diplomatic Course (SDC) 2025 yang digelar Departemen I Bidang Penelitian dan Pengembangan Keilmuan HIMAHI ini memang beda level dari tahun-tahun sebelumnya. Selain jumlah peserta yang tembus lebih dari 20 orang, kualitas debatnya juga naik. Ada delegasi Rusia yang keras banget tolak intervensi Barat, China yang keras soal sanksi, Jepang yang main blocking tiap poin yang menyentuh wilayahnya, sampai Indonesia yang jadi penutup celah dengan usul kerjasama ASEAN-plus. Lobby di belakang panggung lebih panas lagi, koridor lantai 3 penuh mahasiswa bisik-bisik, bertukar draft, sampai ada yang membawa kopi biar tetap semangat.

Ketua Pelaksana SDC 2025, Siti Ayasha, mengaku deg-degan tapi puas banget. “Dari pagi jam setengah delapan kita udah gladi. Yang bikin bangga, resolusi akhir yang disahkan itu bener-bener komprehensif: ada poin soal data sharing lintas negara, rehabilitasi korban, sampe pendanaan dari negara maju ke negara berkembang,” cerita Ayasha sambil senyum lebar.

Intan Az Zahra Aminnudin, Ketua Umum HIMAHI 2024-2025, “Acara kayak gini yang bikin nama HI Moestopo dikenal di luar sana. Kita nggak cuma bikin simulasi, tapi bener-bener ngajarin anak-anak cara berpikir seperti diplomat beneran. Dari cara menulis position paper, ngomong di podium tanpa grogi, sampe cara matiin lawan pake senyuman, semua dilupain di sini,” ujar Intan pas sesi penutupan sambil tepuk tangan meriah.

Puncaknya, tiga delegasi terbaik dapet penghargaan: Best Delegate diraih delegasi Colombia (Globy), Most Outstanding Delegate untuk delegasi China (UPNVJ), dan Best Position Paper buat delegasi Philippines (UPNVJ). Semua peserta pulang bawa sertifikat, pengalaman nggak ternilai, dan teman baru dari kampus lain.

Meski lelah, banyak yang sampai suara habis, kaki pegal berdiri seharian, dan working paper revisi sampai tiga kali  suasana pas penutupan malah penuh tawa. Foto bersama, bagi-bagi stiker SDC, sampe janjian buat ikut event MUN lain bareng-bareng.

Short Diplomatic Course 2025 sekali lagi mebuktikan kalau HIMAHI Moestopo nggak main-main soal akademik. Bukan cuma bikin acara, tapi bikin generasi yang siap duduk di meja diplomasi dunia beneran

Dua Narasumber Pakar Ajak Mahasiswa HI Moestopo Kuasai Emosi Sebelum Kuasai Dunia

Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin keras dan dinamika hubungan internasional yang penuh tekanan, kemampuan mengelola emosi bukan lagi opsi, tapi keharusan. Hal itu kembali ditegaskan oleh Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Nadirah, S.Sos., M.A., saat membuka rangkaian acara Global Skill Initiative (GSI) 2025. “Kalian bisa jago teori realisme, liberalisme, atau konstruksi sosial seindah apa pun, tapi kalau emosi nggak stabil, keputusan yang diambil di meja negosiasi atau di saat krisis bisa salah total,” kata Bu Nadirah dengan nada yang santai tapi menusuk, langsung bikin ruangan Amphitheater lantai 3 Gedung FISIP jadi hening sejenak, Selasa, 23 September 2025.

Acara yang digagas Departemen II Bidang Kaderisasi dan Pengembangan Organisasi Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) periode 2024-2025 ini memang sengaja dirancang beda dari seminar-seminar biasa. Mengangkat tema besar “Membentuk Stabilitas Emosi dalam Pengambilan Keputusan Strategis di Bidang Akademik dan Dunia Profesional”, GSI 2025 nggak cuma ngasih materi, tapi bener-bener memaksa peserta keluar dari zona nyaman lewat kombinasi talkshow intens, QnA tajam, ice breaking yang bikin ngakak sekaligus mikir, sampai simulasi decision game berjudul FLAGGED! yang bikin jantungan karena tiap keputusan punya konsekuensi langsung.

Dua narasumber yang dihadirkan juga bukan kaleng-kaleng: satu dari kalangan praktisi yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia negosiasi dan manajemen krisis, satunya lagi psikolog organisasi yang sering jadi pembicara di perusahaan multinasional. Keduanya kompak bilang satu hal: “Orang yang emosinya labil, sekaya apa pun portofolionya, tetap nggak akan dipercaya duduk di meja besar.” Mereka bercerita panjang lebar soal kasus nyata: diplomat yang gagal karena marah di saat genting, analis yang salah prediksi karena ego, sampai tim negosiator yang bubar gara-gara nggak bisa ngendaliin emosi masing-masing. Ruangan yang tadinya rame jadi sunyi, banyak yang manggut-manggut sambil nyatet.

Mochamad Raihan, Ketua Pelaksana GSI 2025, mengaku sengaja bikin format acara yang “nyakitin” tapi membangun. “Kita sering lihat temen-temen HI pinter banget nulis paper, debatnya ganas, tapi begitu ada sesuatu yang tidak enak dirasakan langsung down berhari-hari. Nah, ini yang mau kita obati lewat GSI,” ujar Raihan sambil ketawa. Menurutnya, simulasi FLAGGED! yang jadi penutup acara adalah puncaknya. Peserta dibagi kelompok, dikasih skenario krisis internasional fiktif tapi realistis, dan dipaksa ambil keputusan dalam hitungan menit sambil diganggu distraksi dan provokasi dari tim panitia. Hasilnya? Banyak yang baru sadar betapa gampangnya emosi mengambil alih logika.

Intan Az Zahra Aminnudin, Ketua Umum HIMAHI 2024-2025, menutup acara dengan nada haru. “Kalian yang hari ini dateng, yang rela duduk dari jam sepuluh pagi sampe jam dua siang, yang mau diajak keluar dari comfort zone, kalian adalah harapan kita. Karena nanti, entah jadi diplomat, analis kebijakan, journalist, pengusaha, atau apa pun, yang bikin kalian beda bukan cuma IPK, tapi seberapa tenang kalian di saat semua orang panik,” kata Intan disambut tepuk tangan meriah dari lebih 70 peserta yang hadir, mulai angkatan 2023 sampai 2025, plus pengurus HIMAHI dan beberapa dosen.

Meski sempat ada drama kecil seperti sound system mati di awal dan konsumsi yang harus di-adjust karena vendor dadakan ngancel, acara tetap berjalan mulus dan ditutup dengan foto bersama plus sharing session santai. Banyak peserta yang bilang GSI 2025 ini jadi salah satu kegiatan HIMAHI paling berkesan selama mereka kuliah di Moestopo.

“Keren banget, tadi aku senang pas main FLAGGED!, tapi abis itu rasanya lega banget. Kayak baru sadar selama ini aku suka buru-buru ambil keputusan kalau lagi kesel,” cerita salah satu peserta angkatan 2024 sembari bawa snack box pulang.

Global Skill Initiative 2025 sekali lagi membuktikan bahwa HIMAHI nggak cuma jadi tempat buat bikin acara seremonial, tapi bener-bener serius mencetak generasi Hubungan Internasional yang nggak cuma pinter otaknya, tapi juga kuat hatinya.

Diplomasi Budaya sebagai Soft Power: Mahasiswa HI Moestopo Pelajari Pengaruh Global Prancis

Dalam rangka memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik diplomasi kebudayaan sebagai instrumen soft power, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyelenggarakan kegiatan Studi Ekskursi Volume 2 pada Rabu, 25 Juni 2025. Kegiatan dengan tema “Cultural Diplomacy as a Soft Power Tool: France’s Global Influence Through Language and Art” ini merupakan implementasi dari program kerja Departemen III Bidang Jaringan dan Komunikasi HIMAHI periode 2024-2025.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPDM(B), Nadirah, S.Sos., MA., menjelaskan bahwa diplomasi budaya merupakan salah satu topik yang sangat relevan dalam kajian hubungan internasional kontemporer. “Prancis adalah salah satu negara yang paling sukses dalam memanfaatkan kekayaan budayanya sebagai alat diplomasi. Melalui bahasa, seni, mode, kuliner, dan berbagai aspek budaya lainnya, Prancis berhasil membangun pengaruh global yang kuat tanpa menggunakan kekuatan militer atau tekanan ekonomi,” jelasnya.

Ilmu Hubungan Internasional merupakan disiplin akademis yang mencakup spektrum luas pengetahuan, yang tidak hanya terbatas pada diplomasi tradisional, tetapi juga mencakup diplomasi publik, diplomasi budaya, dan soft power. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), melalui Program Studi Hubungan Internasional, berkomitmen untuk memberikan mahasiswa kesempatan belajar yang komprehensif, tidak hanya melalui pembelajaran di kelas tetapi juga melalui eksplorasi langsung ke institusi-institusi yang menjalankan praktik diplomasi dalam kehidupan nyata.

Tema yang diusung dalam Studi Ekskursi Volume 2 ini menyoroti peran strategis diplomasi kebudayaan sebagai bagian dari soft power dalam memperkuat pengaruh global Prancis di panggung internasional. Diplomasi kebudayaan bukan hanya menjadi sarana untuk memperkenalkan identitas nasional, tetapi juga merupakan instrumen penting dalam membangun citra positif, menjalin hubungan antarbangsa, serta menciptakan koneksi emosional yang mendalam melalui medium seni dan bahasa.

Melalui tema ini, mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana Prancis memanfaatkan kekayaan budayanya, termasuk bahasa Prancis, fashion, seni rupa, musik, film, mode, hingga kuliner sebagai alat diplomasi yang efektif. Strategi ini tidak semata-mata bertujuan mempromosikan budaya, melainkan juga merepresentasikan pendekatan politik yang halus dalam membentuk opini publik internasional dan memperkuat hubungan bilateral secara damai dan berkelanjutan.

Dekan FISIP UPDM(B), Prof. Dr. Himsar Silaban, MM., menekankan pentingnya pemahaman mahasiswa terhadap konsep soft power dalam diplomasi modern. “Di era globalisasi ini, kekuatan suatu negara tidak hanya diukur dari kemampuan militer atau ekonominya, tetapi juga dari kemampuannya menarik simpati dan mempengaruhi negara lain melalui budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Prancis adalah contoh sempurna dari keberhasilan strategi ini,” ujarnya.

Studi Ekskursi ini memiliki beberapa tujuan strategis yang sejalan dengan kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa Hubungan Internasional. Pertama, memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai bagaimana hubungan internasional dikelola secara langsung melalui praktik diplomasi nyata di lapangan, khususnya diplomasi budaya. Kedua, mengkaji dan menganalisis strategi global yang diterapkan oleh negara melalui peran aktif perwakilan diplomatik dan institusi budaya.

Ketiga, mendorong mahasiswa untuk membangun koneksi profesional serta memperoleh pengalaman lapangan melalui interaksi langsung dengan pejabat diplomatik dan praktisi hubungan internasional. Keempat, meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap dinamika kebijakan luar negeri secara lebih aplikatif dan kontekstual. Kelima, menumbuhkan keterampilan analitis mahasiswa dalam mengidentifikasi dan memahami isu-isu kontemporer dalam hubungan internasional, khususnya yang berkaitan dengan soft power dan diplomasi publik.

Dalam paparannya, perwakilan kedutaan menjelaskan bahwa diplomasi budaya Prancis dijalankan melalui berbagai institusi dan program, termasuk Institut Français dan Alliance Française yang tersebar di seluruh dunia. Institusi-institusi ini tidak hanya mengajarkan bahasa Prancis, tetapi juga menjadi pusat promosi budaya Prancis melalui berbagai kegiatan seperti festival seni, pameran, konser musik, pemutaran film, dan program pertukaran budaya.

Mahasiswa juga mempelajari bagaimana Prancis menyebarkan nilai-nilai universal seperti liberté (kebebasan), égalité (kesetaraan), dan fraternité (persaudaraan) melalui berbagai program diplomasi pendidikan, termasuk beasiswa untuk mahasiswa internasional, program pertukaran pelajar, dan kerja sama akademik dengan universitas-universitas di berbagai negara.

Perwakilan kedutaan juga menjelaskan bagaimana bahasa Prancis menjadi salah satu aset diplomasi terbesar Prancis. Sebagai salah satu bahasa resmi PBB, Uni Eropa, dan berbagai organisasi internasional lainnya, bahasa Prancis menjadi jembatan komunikasi yang memfasilitasi pengaruh Prancis di kancah global. Melalui program-program pembelajaran bahasa Prancis di berbagai negara, Prancis tidak hanya menyebarkan bahasanya tetapi juga nilai-nilai dan perspektif budayanya.

Kegiatan Studi Ekskursi Volume 2 ini memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional. Mahasiswa tidak hanya memahami konsep soft power dan diplomasi budaya secara teoretis, tetapi juga melihat langsung bagaimana konsep-konsep tersebut diterapkan dalam praktik nyata oleh salah satu negara yang paling berhasil dalam menjalankan strategi ini.

Kepala Program Studi Hubungan Internasional Nadirah, S.Sos., MA., menjelaskan bahwa pemahaman tentang diplomasi budaya sangat penting dalam konteks hubungan internasional modern. “Di era di mana informasi mengalir dengan sangat cepat dan opini publik dapat berubah dalam sekejap, kemampuan suatu negara untuk membentuk persepsi positif melalui budaya menjadi sangat penting. Mahasiswa kita perlu memahami bahwa diplomasi tidak hanya tentang negosiasi formal antar pemerintah, tetapi juga tentang bagaimana membangun hubungan people-to-people yang lebih dalam,” jelasnya.

Ketua Umum HIMAHI, Intan Az Zahra Aminnudin, menambahkan bahwa kegiatan ini juga mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya apresiasi terhadap keberagaman budaya. “Melalui pemahaman terhadap bagaimana Prancis mempromosikan budayanya, kita juga belajar untuk lebih menghargai kekayaan budaya Indonesia sendiri. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam diplomasi budaya, dan mahasiswa kita perlu memahami bagaimana memanfaatkan potensi tersebut untuk kepentingan nasional,” ujarnya.

Kegiatan Studi Ekskursi Volume 2 yang diselenggarakan oleh HIMAHI FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) ke Kedutaan Besar Prancis merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual dalam bidang hubungan internasional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai diplomasi budaya sebagai instrumen soft power, serta bagaimana strategi ini dijalankan oleh Prancis untuk memperkuat pengaruh globalnya.

Tema “Cultural Diplomacy as a Soft Power Tool: France’s Global Influence Through Language and Art” berhasil membuka wawasan mahasiswa tentang dimensi diplomasi yang lebih luas, di luar diplomasi tradisional yang berfokus pada negosiasi politik dan ekonomi. Mahasiswa memahami bahwa dalam era globalisasi dan interdependensi yang semakin kompleks, soft power menjadi instrumen yang sangat penting dalam mencapai kepentingan nasional suatu negara.

Kegiatan ini juga memperkuat pesan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya tentang transfer pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga tentang memberikan pengalaman langsung yang dapat memperkaya pemahaman dan membangun keterampilan praktis mahasiswa. Melalui kombinasi antara pembelajaran teoretis dan pengalaman lapangan, mahasiswa diharapkan dapat menjadi lulusan yang siap menghadapi tantangan dalam dunia hubungan internasional yang dinamis dan kompleks.

Dengan memahami praktik diplomasi budaya dari perspektif lapangan dan strategi global dari para pelaku langsung, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan wawasan kritis serta keterampilan analitis yang diperlukan untuk berkontribusi di bidang hubungan internasional secara profesional. Diplomasi budaya sebagai soft power bukan hanya relevan untuk memahami strategi negara lain, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk lebih mengoptimalkan kekayaan budayanya dalam diplomasi global.

Menjelajahi Diplomasi Nyata: Studi Ekskursi HIMAHI ke Kedutaan Besar Singapura

Dalam upaya memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik diplomasi dan hubungan internasional secara langsung, Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyelenggarakan kegiatan Studi Ekskursi pada Kamis, 22 Mei 2025. Kegiatan dengan tema “Navigating International Relations: Insights Into Diplomatic Practices and Global Strategies” ini merupakan bentuk implementasi dari program kerja Departemen III Bidang Jaringan dan Komunikasi HIMAHI periode 2024-2025.

Kepala Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPDM(B), Nadirah, S.Sos., MA., menjelaskan bahwa kegiatan Studi Ekskursi memiliki peran penting dalam memberikan pengalaman pembelajaran yang aplikatif bagi mahasiswa. Melalui kunjungan langsung ke Kedutaan Besar Republik Singapura di Indonesia, mahasiswa dapat melihat bagaimana teori-teori Hubungan Internasional yang dipelajari di kelas diterapkan dalam praktik diplomasi nyata. Kegiatan seperti ini menjembatani kesenjangan antara pembelajaran teoretis dengan realitas kerja di lapangan, khususnya di lingkungan instansi pemerintahan dan diplomasi.

Ilmu Hubungan Internasional merupakan disiplin akademis yang mencakup spektrum luas pengetahuan, mulai dari diplomasi, politik luar negeri, ekonomi internasional, hingga keamanan global. Untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif, mahasiswa tidak hanya memerlukan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga aktivitas eksplorasi, penelitian, dan analisis langsung di lapangan. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), melalui Program Studi Hubungan Internasional, berkomitmen untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut guna menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki wawasan praktis mengenai dinamika hubungan internasional.

Studi Ekskursi yang diselenggarakan oleh HIMAHI ini memiliki beberapa tujuan strategis. Pertama, memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai bagaimana hubungan internasional dikelola secara langsung melalui praktik diplomasi nyata di lapangan. Kedua, mengkaji dan menganalisis strategi global yang diterapkan oleh negara melalui peran aktif perwakilan diplomatik, guna memperluas wawasan mahasiswa terhadap dinamika politik luar negeri. Ketiga, mendorong mahasiswa untuk membangun koneksi profesional serta memperoleh pengalaman lapangan melalui interaksi langsung dengan pejabat diplomatik dan praktisi hubungan internasional.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap dinamika kebijakan luar negeri secara lebih aplikatif dan kontekstual, serta menumbuhkan keterampilan analitis dalam mengidentifikasi dan memahami isu-isu kontemporer dalam hubungan internasional. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan perspektif yang lebih luas dan kritis dalam memahami kompleksitas hubungan antarnegara di era globalisasi.

Kegiatan Studi Ekskursi ini memberikan manfaat yang sangat signifikan bagi mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional. Melalui kunjungan langsung ke kedutaan, mahasiswa dapat melihat secara konkret bagaimana praktik diplomasi dijalankan, memahami kompleksitas hubungan bilateral, serta mengenali berbagai peluang dan tantangan dalam karier di bidang hubungan internasional dan diplomasi.

Dekan FISIP UPDM(B), Prof. Dr. Himsar Silaban, MM., menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan visi universitas untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kompetensi praktis dan jaringan profesional yang luas. “Universitas Moestopo berkomitmen untuk terus memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang memberikan nilai tambah bagi mahasiswa, khususnya dalam mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif,” tegasnya.

Ketua Umum HIMAHI, Intan Az Zahra Aminnudin, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya HIMAHI dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. “Kami berharap kegiatan Studi Ekskursi ini dapat menjadi program rutin yang terus ditingkatkan kualitasnya, sehingga semakin banyak mahasiswa yang mendapatkan manfaat dari pembelajaran langsung di lapangan,” ujarnya.

Kegiatan Studi Ekskursi yang diselenggarakan oleh HIMAHI FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) ke Kedutaan Besar Republik Singapura merupakan salah satu bentuk implementasi pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoretis, tetapi juga pengalaman langsung dalam memahami praktik diplomasi dan strategi global yang diterapkan oleh negara-negara dalam mengelola hubungan internasional.

Tema “Navigating International Relations: Insights Into Diplomatic Practices and Global Strategies” menggarisbawahi pentingnya pemahaman mendalam mengenai praktik diplomasi sebagai elemen kunci dalam mengelola hubungan antarnegara di era globalisasi. Diplomasi bukan hanya alat komunikasi antar pemerintah, tetapi juga instrumen penting dalam menjaga stabilitas politik, memperluas kerja sama ekonomi, serta membangun kepercayaan di antara aktor-aktor internasional.

Dengan memahami praktik diplomasi dari perspektif lapangan dan strategi global dari para pelaku langsung, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan wawasan kritis serta keterampilan analitis yang diperlukan untuk berkontribusi di bidang hubungan internasional secara profesional. Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata komitmen Universitas Moestopo dalam menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan global dengan bekal pengetahuan dan pengalaman yang mumpuni.

HIMAHI FISIP UPDM(B) berharap kegiatan Studi Ekskursi dapat terus dilaksanakan secara berkala dengan mengunjungi berbagai kedutaan besar dan organisasi internasional lainnya, sehingga mahasiswa memiliki kesempatan yang lebih luas untuk belajar dan membangun jaringan di bidang hubungan internasional dan diplomasi.

Deputi Argentina Paparkan Potensi dan Visi Global di Universitas Moestopo

Saat acara “Meet D’Parliament” yang diselenggarakan oleh Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) pada tanggal 17 Juni 2025, Karina Bachey, selaku perwakilan dari National Deputy for San Luis, memaparkan wawasan mendalam mengenai Argentina. Dalam acara yang mengusung tema “Discovering Argentina: A Journey Through Its People, Potential, and Global Vision” tersebut, Karina menjelaskan bahwa Argentina memiliki kekayaan budaya yang sangat dinamis. Sebab, Argentina tidak hanya dikenal lewat prestasi olahraganya, tetapi juga melalui keragaman masyarakatnya yang inspiratif dan inovatif. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menyelenggarakan acara ini untuk mendorong mahasiswa memahami perspektif global secara langsung dari para pelakunya.

Eksplorasi mengenai potensi Argentina dibahas secara mendalam, menyoroti bagaimana negara tersebut memainkan peran yang menarik di panggung global. Karina Bachey menekankan pentingnya memahami bagaimana sejarah dan demografi Argentina membentuk visi global negara tersebut saat ini. Pendidikan dan pemahaman lintas budaya mengenai isu-isu Amerika Latin sangat penting untuk membangun jembatan diplomasi yang kuat. Dalam sesi ini, dijelaskan bahwa penduduk Argentina memiliki semangat ketahanan dan kreativitas yang tinggi, yang menjadi modal utama mereka dalam menghadapi tantangan global. Dengan berpartisipasi dalam dialog seperti ini, mahasiswa diharapkan dapat mengambil inspirasi dari semangat kemajuan yang dimiliki oleh masyarakat Argentina.

Ketika mempertimbangkan dinamika hubungan internasional, penting untuk melihat potensi kolaborasi antara Indonesia dan Argentina. Karina Bachey menyoroti berbagai sektor potensial, mulai dari pertanian, teknologi, hingga pertukaran budaya. Sejauh ini, hubungan diplomatik kedua negara berjalan baik, namun masih banyak ruang untuk ditingkatkan. Fasilitator acara, Nadirah, S. Sos, Ma. selaku Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), memandu jalannya diskusi dengan sangat apik, menjembatani pertanyaan kritis mahasiswa dengan paparan narasumber. Peran fasilitator sangat krusial dalam menggali lebih dalam mengenai bagaimana visi global Argentina dapat bersinergi dengan kepentingan Indonesia.

Oleh karena itu, Karina Bachey mendorong generasi muda, khususnya mahasiswa Universitas Moestopo, untuk lebih proaktif dalam mempelajari dinamika global. Diskusi ini membuka wawasan bahwa Argentina memiliki posisi strategis dalam geopolitik dan ekonomi global yang seringkali luput dari perhatian media arus utama. Ibu nadirah juga menekankan bahwa acara seperti ini adalah kesempatan emas untuk membangun jejaring internasional dan memahami budaya asing secara autentik, bukan sekadar dari literatur.

CELA: Membangun Jembatan Kerja Sama Latin Amerika–Asia Tenggara di Kawasan Indo-Pasifik

Peluncuran Center for Latin America (CELA) di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) pada 16 Oktober 2025 merupakan langkah strategis dalam memperluas fokus internasional universitas, khususnya dalam memperdalam pemahaman lintas kawasan antara Amerika Latin dan Asia Tenggara. Dengan menghadirkan Prof. Ezequiel Ramoneda selaku perwakilan dari National University of La Plata sebagai pembicara utama, acara ini menggarisbawahi pentingnya dialog antarwilayah di tengah perubahan geopolitik Indo-Pasifik. CELA dirancang sebagai pusat studi yang memfasilitasi pertukaran pengetahuan, riset multidisiplin, dan diplomasi akademik yang memperkuat jejaring antara para peneliti, akademisi, dan diplomat dari kedua kawasan. Kehadiran pusat ini menunjukkan komitmen Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dalam memajukan pendidikan global yang inklusif dan responsif terhadap dinamika internasional.

Dalam pemaparannya, Prof. Ramoneda menyoroti bahwa Amerika Latin dan Asia Tenggara memiliki banyak persamaan struktural, mulai dari tantangan pembangunan, kebutuhan diversifikasi ekonomi, hingga upaya memperkuat demokrasi dan ketahanan regional. Ia menjelaskan bahwa Indo-Pasifik telah menjadi ruang strategis di mana kedua kawasan memiliki kepentingan bersama, terutama dalam bidang perdagangan maritim, konektivitas, energi hijau, serta ketahanan pangan. Selain berbagi tantangan, kedua kawasan juga memiliki peluang besar untuk memanfaatkan keunggulan masing-masing, seperti sumber daya alam Amerika Latin yang melimpah dan daya saing industri Asia Tenggara. Melalui perspektif ini, diskusi tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga memperlihatkan potensi strategis kerja sama lintas kawasan yang selama ini kurang tereksplorasi.

Kegiatan ini semakin menegaskan pentingnya kolaborasi akademik sebagai pilar dalam membangun hubungan antarwilayah. Dengan berdirinya CELA, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) kini memiliki wadah yang dapat mengkoordinasikan program penelitian bersama, seminar internasional, analisis kebijakan, hingga aktivitas budaya yang memperkuat koneksi antarnegara. Peserta acara juga mendapatkan wawasan mengenai bagaimana kerja sama akademik dapat menjadi instrumen diplomasi yang efektif untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan pergeseran geopolitik. Inisiatif ini selaras dengan visi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dalam memperkuat pluralisme dan keterbukaan melalui pendidikan, sekaligus memperluas kontribusi Indonesia dalam percaturan global melalui diplomasi berbasis pengetahuan.

Festival Film Amerika Latin Venezuela di Universitas Moestopo

Pada tanggal 15 Juli 2025, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) menghadirkan Festival Film Amerika Latin yang istimewa bertempat di Ruang Seminar Kampus Moestopo. Acara ini menghadirkan special guest H.E. Mr. Enrique Antonio Acuña Mendoza, Duta Besar Republik Bolivarian Venezuela untuk Indonesia. Dalam pidatonya, Duta Besar Enrique Acuña Mendoza menyoroti perkembangan sinema Venezuela serta bagaimana sinema menjadi sarana penyebaran budaya dan pemahaman yang lebih baik tentang keragaman serta dinamika masyarakat Venezuela.

Festival ini menggabungkan pemutaran film-film pilihan dari kawasan Amerika Latin, khususnya Venezuela, sebagai upaya memperkenalkan kekayaan dan kompleksitas tema sosial, politik, serta budaya Amerika Latin kepada mahasiswa dan sivitas akademika Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama). Film yang diputar mengangkat berbagai isu seperti perjalanan sejarah, kehidupan masyarakat urban dan pedesaan, serta peran perempuan dalam sinema modern Amerika Latin.

Partisipasi dari para mahasiswa sangat aktif, berbagai diskusi interaktif dilakukan seusai pemutaran film untuk memperdalam wawasan peserta tentang isu-isu yang terkandung dalam film. Dalam sesi diskusi, para peserta dan pembicara membahas tantangan yang dihadapi industri film Venezuela, peran industri kreatif dalam mendorong perdamaian dan pemahaman lintas budaya, serta kesempatan kolaborasi antara Indonesia dan negara-negara Amerika Latin di masa mendatang. Dukungan terhadap industri film sebagai bagian dari diplomasi budaya pun mendapat sorotan dalam diskusi tersebut.

Duta Besar Enrique Acuña Mendoza juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) atas inisiatif penyelenggaraan festival, yang dapat memperkuat hubungan diplomatik antara Venezuela dan Indonesia melalui jalur pemahaman budaya dan kreatif. Ia menekankan pentingnya sinema sebagai media untuk membangun dialog antar masyarakat global dan mengangkat tema-tema kemanusiaan serta perdamaian.

Melalui acara ini, diharapkan tercipta ruang kreativitas dan dialog yang mampu mempererat kerja sama internasional, memperluas cakrawala mahasiswa, serta meningkatkan apresiasi terhadap sinema dan budaya Amerika Latin di Indonesia. Festival Film Amerika Latin ini menandai langkah konkret Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dalam mendorong pembelajaran lintas disiplin dan memperkuat jejaring global bagi sivitas akademikanya.